Tuesday, June 3, 2014

Aku Merasa Baik-Baik Saja.......... :'(




Ada begitu banyak kebohongan yang aku simpan. Aku tak bisa berkata jujur padamu, pada laki-laki yang begitu sangat ku cintai, aku tak bisa
yang pertama, aku merasa baik-baik saja di  saat kamu  menyerah dan angkat tangan atas hubungan ini, aku tak bisa mengatakan “aku hancur” aku hanya bisa mengatakan “iya aku mengerti” dan kemudian tersenyum.
yang kedua, aku merasa baik-baik saja saat kamu tak ada, saat aku tak lagi mendengar kabarmu, saat aku tak lagi berada di sampingmu, saat aku tak lagi menjadi pengingatmu. Justru sebaliknya, aku tak baik-baik saja, Kenyataannya? Aku benar-benar kesepian
yang ketiga, aku merasa baik-baik saja saat melihat fotomu, foto kita, saat aku melihat sepeda, saat aku melihat kalung, saat aku melihat gelang, saat aku melihat bunga eidelweiss, saat aku melihat tangga, saat aku melihat kantin. Justru sebaliknya, aku tak baik-baik saja,  Kenyataaannya? Aku sangat merindukanmu!
Dan entah sudah berapa kali aku mengatakan aku baik-baik saja padamu, bukan karena aku tidak ingin jujur, karena aku tahu kamu tidak akan pernah peduli dengan perasaanku

Aku Rindu Kamu!



Aku  sedang tidak bercanda jika mengatakan bahwa aku merindukanmu. Aku pernah bilang bahwa kamu mudah sekali dirindukan, kan? Akhir-akhir ini, kamu datang lebih sering ke dalam kepalaku. Terkadang menjelma cerita, lagu-lagu, film, atau bahkan gambar-gambar yang memunculkan kelakuan-kelakuan konyol tentang kita dahulu. Apa kamu ingat? Di suatu sore yang basah, kita pernah duduk di kantin, saat itu aku basah kuyup akibat mengendarai motor di tengah hujan. Awalnya kamu melarangku untuk datang tapi rindu teteplah rindu, aku memaksa untuk tetap datang aku rela menerobos hujan demi menemuimu, kamu menyuruhku memakai jas hujan, kaos kaki dan sebagainya agar aku tidak terlalu basah, tapi aku bandel, aku tidak memakai apapun akhirnya aku basah kuyup hahaha. kamu ingat juga kan? Saat itu tepat sehari setelah kita jadian. Kamu bilang kamu akan memberikan sesuatu untukku, aku tertarik apa hadiah yang akan kamu berikan, tapi rinduku lebih besar daripada rasa penasaranku. Dan ternyata kamu memberikanku sebuah kalung bertuliskan love, awalnya aku tak menyangka lelaki sependiam kamu bisa seromantis ini memberiku sebuah kalung, hahaha tapi tetap saja kamu memberikan kalung itu dengan tatapan dingin.
kamu bilang “harganya emang engga seberapa, kalau engga suka biar aku ambil lagi”
aku tertawa mendengarmu berbicara seperti itu, kemudian aku menggelengkan kepala dan menggenggam erat kalung itu
Apa kamu ingat?

Rindu begitu mudah sekali mengundang kenangan. Sesekali kali aku tertawa mengingatnya, setelahnya hanya ada dada yang sesak mengetahui bahwa hal itu tak dapat terulang kembali. Lalu kemudian, tanpa bisa menahan, rindu menjelma hujan dalam pipiku. Menciptakan bulir-bulir bening yang jatuh satu per satu. Membuatku cemas dan menyesaki pernapasan. Hingga tersengal dalam resah tak berkesudahan.

Oh ya, aku rindu kamu.!

Sunday, June 1, 2014

Ketika Janji Hanya Menjadi Sebuah Janji



Ketika semua sudah berakhir ada hal yang mengganjal dalam benakku. Akankah aku kuat menghadapi ini sendirian? Akankah aku bisa kuat melewati hari-hariku tanpamu? Dan apakah aku kuat jika tak bisa lagi mendengar kabarmu? Hahaha entahlah, aku tak tahu apakah aku bisa kuat atau tidak, yang jelas aku akan berusaha semampuku, aku akan berusaha untuk moveon dan melupakan hal-hal tentang kita yang membuat aku menangis.

Kamu tau tidak? Dulu saat kamu berjanji akan selalu bersamaku, perasaanku sangat senang sekali, aku merasa aku tidak sendirian hidup di rantau orang. Aku merasa kamu selalu menemaniku. Aku merasa tak takut lagi jika aku menghadapi dosen-dosen yang ngeselin karena kamu selalu disampingku, karena kamu berjanji akan selalu membelaku, apalagi saat kamu menghapus air mataku saat aku menangis ketika bercerita tentang masalahku di kampus itu membuat aku benar-benar tidak sendirian. Tapi saat kamu melanggar janji bahwa kamu akan selalu disampingku, aku tak tahu gimana sakitnya perasaanku yang jelas saat itu aku merasa hancur, semuanya sulit di terjemahkan kata-kata. Bahkan bila mengingat ini terus menerus air mataku tak henti mengalir

Aku tak menyalahkan kamu karena telah melanggar janji itu, aku tak menyalahkan siapapun termasuk ibumu. Bahkan aku juga tidak menyalahkan diriku sendiri. Tidak ada yang salah jika kamu memutuskan untuk pergi karena itu adalah hakmu. Aku tak berhak memaksamu untuk tetap tinggal jika kau tetap bersihkeras untuk pergi. Untuk apa tetap memaksa? Kuakui aku masih sangat menyayangimu, sangat. Tapi aku tak bisa berbuat apapun jika itu keputusan terakhirmu. Aku tak bisa

Yang bisa ku lakukan saat ini hanyalah menerima kenyataan pahit ini, menerima janji-janji yang kamu langgar dan menerima semua rasa sakit ini dengan ikhlas, aku tak membencimu bahkan aku tak marah, aku hanya butuh waktu sendiri untuk memulihkan perasaanku. Jika tiba saatnya nanti saat aku udah sembuh dari rasa sakit ini, aku siap menerimamu menjadi teman terbaikku. Tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk berteman. Beri aku waktu untuk menyembukan luka ini sendiri dulu. Nanti jika waktunya tepat akan ku beritahumu :)

Senyum Itu....



Masih ku ingat senyum itu
senyum yang kau berikan saat kita di pertemukan
senyum yang mampu membuat aku jatuh cinta
senyum yang mampu melelehkan emosi menjadi tawa
senyum yang mampu membuat tangis menjadi airmata kebahagiaan
senyum yang bila ku lihatnya terasa tentram


tapi … kini semua hilang
senyum itu hilang
aku tak dapat melihat senyum itu lagi
kemana perginya senyum itu?
kemana?
aku merindukan senyuman itu..

Tuesday, May 27, 2014

Promise, rel?



Farel selalu tau saat dimana wanitanya ini sedang tidak mood, ia memang sangat perhatian dengan mimik wajah dan gesture tubuhku.  Aku tidak tahu apakah aku yang tidak bisa menutupi darinya atau memang ia yang pandai sekali membaca pikiranku. Entahlah, yang jelas saat ini aku memang benar-benar sedang tidak mood 

“kenapa ra?” tanyanya sambil menatapku, seolah penasaran sekali dengan apa yang membuat kekasihnya ini murung

aku hanya menggeleng, kemudian memanggil ibu kantin untuk memesan minum. Dengan harapan semoga saja saja setelah minum perasaanku jauh lebih baik 

“kenapa aira?” tanyanya lagi dan sekarang sedikit mengeraskan suaranya

“aku engga apa-apa” ucapku mencoba tersenyum 

“bilang ngga!!” ucap farel sedikit memaksaku bercerita

“dosen itu buat aku nangis di kelas tadi” kataku murung 

“di apain kamu?”

“udahlah, forget it!” 

“masih engga mau cerita sama aku?"

“tadi aku dipermaluin di kelas, dibilang engga punya sopan santun, dan yang paling buat aku sakit hati dia bilang kenapa bisa kampus ini nerima orang kaya aku” kataku sambil meneteskan air mata ‘aku tau, aku salah. Saat itu aku emang lagi berebut bahan kuliah sama temen sebelahku, itu sambil bercanda rel, tapi kenapa harus ngomong sekasar itu?” 

“tadi juga dosen itu buat aku marah, dia nuduh aku engga bikin makalah, dia rendahin aku di depan anak-anak. aku harus lapor dosen wali ra”

aku menggeleng “engga rel, engga udah di perpanjang. Nanti malah nilai kamu jadi taruhannya” 

“aku engga peduli dapet nilai D atau E sekalipun, ini engga bisa didiemin terus ra, makin banyak nanti mahasiswa yang sakit hati karena perkataannya” ucap farel mulai emosi

Farel adalah orang paling keras kepala yang aku kenal, meskipun aku larang sambil memohon sekalipun ia tak pernah mendengarkan ucapanku. Tapi walaupun dia keras kepala dia akan luluh saat melihat air mata dari seorang yang ia cintai terjatuh 

Aku menggenggam tangannya dan memohon sambil menangis agar tidak lagi memperpanjang masalah ini. Aku tak tahu apakaah ia mendengarkan ucapanku atau tidak yang jelas ia hanya terdiam. Dan setelah beberapa menit kemudian ia mengeluarkan suara

“jangan nangis lagi, anggap aja engga pernah terjadi” ucapnya sambil membantuku menghapus air mata 

Aku mengangguk dan mencoba tersenyum

“rel” sapaku lembut “kamu selamanya sama aku kan? Aku engga bisa ngelewatin semuanya sendirian, Aku takut.” 

“takut kenapa?” tanyanya

“yaaa, takut aja. baru diginiin aja aku udah nangis apalagi skripsi nanti? Pasti lebih kejam lagi kata-katanya” 

“hahaha kamu harus kebal dong, kamu harus kuat. Engga boleh cengeng” ucapnya memberiku semangat

“kuatin aku rel” 

“kamu harus bisa sendiri, kalau kamu engga dibiasain mandiri kamu bakal manja terus, kapan gedenya coba? Ucapnya sambil meledekku dan menjulurkan lidahnya

“nyebelin banget sih, aku udah gede tau!” ucapku kesal 

“kalau gitu kamu harus mandiri, aira, engga selamanya aku berada di samping kamu, aku engga bisa terus-terusan 24 jam jagain kamu. Kamu harus bisa kuatin diri kamu sendiri”

Farel menggenggam tanganku seraya menguatkan aku saat tau air mataku terjun bebas dari mataku 

“tapi jangan khawatir, selama aku disini, aku akan jagain kamu”

“promise, rel?” tanyaku mencoba melakukan perjanjian 

“insyaAllah, selagi umurku masih cukup” ucapnya sambil tersenyum
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com