Sunday, March 15, 2015

Perkara Melepaskan



Ini bukan soal siapa yang paling sakit atau yang paling menyakiti, ini soal melepaskan. Terkadang melepas memang terasa amat berat terlebih saat kita sangat mencintainya. Kata  lepas seolah mimpi buruk yang selalu menghantuiku hingga saat ini. Melepasnya untuk saat ini adalah pilihan terbaik, karena untuk menggenggampun aku tak bisa, Allah tak suka. Aku tak tahu apakah aku bisa melepasnya atau tidak, selama ini dia yang terus di sampingku dan untuk pergi darinya butuh usaha yang keras tapi bukankah Allah selalu membantu hambanya untuk menjadi lebh baik? Aku yakin Allah takkan pernah membiarkan hambanya tersesat, galau, tak punya arah tujuan. Allah akan membantuku pergi dari ini semua, dari hal-hal yang membuat air mataku mengalir dengan derasnya, dari cinta yang tidak halal

Sejujurnya aku ingin terus bersamanya berbagi kisah berdua, berbagi tangis, tawa, canda, bahagia. Walaupun sebenarnya aku tak siap, tapi aku harus. Aku tak ingin menodai cintaku dengan napsu, aku tahu terkadang rasa ingin selalu bersamanya adalah napsu yang selalu dibisikan oleh setan untuk menjerumuskanku kedalam jebakannya. Setan menginginkanku untuk melupakan Allah dengan selalu membisikkan tentang cinta yang sebenarnya tidak halal setan meramunya seindah mungkin hingga aku mabuk kepayang merasakan cinta padahal sesungguhnya itu hanya merusak, cinta yang tak halal hanya akan merusak cinta yang suci dari Allah.

Sekarang biarkan aku menutup diriku hanya doa yang dapat ku lakukan saat ini, memendam rindu yang sangat menyiksa, menundukkan pandangan saat berhadapan dengannya, karena aku sangat mencintainya karena Allah biarkan aku mundur beberapa langkah darinya berusaha sejauh mungkin dan tak ingin terlihat lagi olehnya. Aku hanya ingin menjaga cintaku agar tak ternodai biarkan saja doa menjadi satu-satunya obat rindu yang paling ampuh. Jika memang Allah berkenan menyatukanku dengannya Allah sendiri yang akan melangkahkan kaki kita bersama. Tapi jika Allah tidak berkenan menyatukan aku dengannya biarkan aku menjaga hatiku hanya untuk laki-laki yang pantas mengambilnya dengan yang di halalkan-Nya, laki-laki yang Allah pilih untuk menjadikan imam bagiku dan calona ayah untuk anakku kelak. :)

Apakah Kau Merasakan Sakit yang Sama?




Terkadang aku ingin menangis sekencang-kencangnya pada pelukanmu, maraung-raung mengungkapkan segala pedih yang selalu tercipta di setiap helaan napas. Setiap saat itu tiba, ku tepis keinginan yang mungkin takkan pernah terjadi itu, ku hilangkan semua angan yang sampai kapanpun hanya akan menjadi angan-angan., ku simpan segalanya dalam sebuah kotak memori yang mungkin takkan pernah kubuka lagi.

Kali ini aku merasa sepi, tak ada bahu yang bisa kusandarkan, tak ada lagi yang mengusap tetesan air yang kian membasahi pipi, dan tak ada lagi sosok yang dulu selalu menguatkan. Kini semua terasa hampa, benar-benar kosong, sepi dan mati. Kupikir aku ingin segera melenyapkan perasaan yang kian membuat segala sesak yang tak pernah henti, segala sakit yang tak tertahankan lagi, segala pedih yang kian terasa perih. Tapi.. aku tak punya daya dan kekuatan untuk itu. Perasaan itu selalu saja menghampiri, upayaku untuk menghindar tak pernah berhasil, perasaan itu selalu saja menghantui di sela-sela malam yang gigil.

Kopi ini terasa benar-benar pahit, kelam, hitam dan tak ada sedikitpun rasa manis yang masuk ke dalam kerongkongan. Rasanya ingin sekali ku muntahkan semuanya, ku buang segala kepahitan yang selama ini ku alami, tapi sudah terlanjur ku telan habis hingga yang tersisa kini hanya ampas. Sengaja aku habiskan semuanya karena kupikir pahitnya akan segera berakhir dengan rasa manis, tapi ternyata dugaanku salah atau mungkin saja belum terasa? Entahlah, kerongkonganku masih saja pahit.

Apakah engkau merasakan hal yang sama, wahai tuanku? Merasa rindu tapi enggan untuk mengungkapkan, perasaan gigil yang di sebabkan oleh kesepian yang tak berkesudahan, perasaan ingin mengulang kembali putaran filem yang diperankan oleh kita berdua? Perasaan sesak saat siluet kenangan kecil lewat begitu saja? Apakah kau juga merasakan hal yang sama? Aku rindu, kesepian, dan ingin sekali  mengulang saat-saat indah itu. Apakah kau merasakan hal yang sama?

Entahlah, rasanya aku ingin mengakhiri semuanya. Aku tak mau merasakan kepedihan ini lagi. Sampai kapan aku terus seperti ini? Sampai kapan? Kadang aku ingin berteriak “aku lelah” dan melepaskan segala beban dipundak dan segala tumpukan rasa sakit. Selalu saja seperti itu, berkali-kali, hingga aku muak dan tak sanggup lagi untuk berdiri. Tak sanggup untuk bangkit menghadapi dunia yang sangat amat kejam.

Saturday, March 14, 2015

#693 KM Jejak Gerilya Sudirman: Sebuah Novel by Ayi Jufridar


Judul              : 693 KM Jejak Gerilya Sudirman: Sebuah Novel
Penulis           : Ayi Jufridar
Penerbit         : Nourabooks
Code              : 978-602-1306-07-9
Terbit             : Januari 2015
Jenis Cover   : Soft Cover
Halaman        : 328
Ukuran           : 135 x 200 mm
Berat              : 350 gram
Bahasa          : Indonesia













Sinopsis:
DI ATAS singgasananya – sebuah tandu kayu – Sudirman merasakan semangat menyala sekaligus kekecewaan yang mendalam. Dia bisa memilih diam di Istana, menunggu musuh datang untuk menangkapnya seperti yang dilakukan pemimpin lain. Kesehatan yang buruk menjadi alasannya untuk bersembunyi atau melakukan perlawanan di balik jeruji besi. 
Sebagai panglima perang dari sebuah negara yang baru lahir, Sudirman melanjutkan perjuangan dari hutan ke hutan dengan siasat yang tak pernah disangka musuhnya. Sebuah perlawanan yang kelak menjawab pertanyaan; Indonesia akan mendapatkan kemerdekaan sepenuhnya atau kembali dalam cengkeraman penjajah. Meski setelah tujuh bulan, api gerilya yang menggelora harus padam oleh keputusan politik – bukan karena kehebatan Belanda. 
Berlatar sejarah pasca-kemerdekaan, novel ini menjawab apa sesungguhnya yang menjadi sumber kekuatan Sudirman dalam perang gerilya dan kekecewaan Sang Jenderal terhadap pemimpin sipil. 

***

“… Saya sungguh merasa lebih dekat secara emosional setelah membacanya …  wajib dimiliki." 
—Happy Salma, Artis  

“Ayi telah memperkaya novel fiksi sejarah di Indonesia ….”

—Dipo Alam, Sekretaris Kabinet Indonesia Bersatu 2010 – 2014, penulis, dan pelukis. 

“ … Ayi Jufridar memberikan kita gambaran pahlawan secara manusiawi.”

—Kurnia Effendi, sastrawan

“Sebuah novel berlatar sejarah yang dituturkan dengan lincah. Penuh

intrik dan hal-hal yang mengejutkan.” 
—Guntur Alam, Penulis  novel Di Bawah Langit Jakarta.

“Cara paling baik membaca novel ini adalah dengan melihat Sudirman dalam kronika sastrawi, bukan biografis semata.”
Teuku Kemal Fasya, Penggiat  jaringan kebudayaan Aceh

“Kisah dengan napas dan ruh baru, Ayi berhasil menghidupkan kembali sosok pahlawan terbesar Indonesia di tengah kita, dengan gambaran yang lebih dekat dan nyata.
Arafat Nur, Peraih Khatulistiwa Literary Award 2011

“Kemampuan Ayi Jufridar meruntunkan kata secara sistematis dalam novel ini, membuat kita bisa menghayati perjuangan gerilya Jenderal Sudirman yang begitu heroik untuk diteladani seluruh anak bangsa dalam peradaban moderen.”   
Prof Dr H Apridar, Guru  besar Universitas Malikussaleh Aceh




 Hadir di toko buku Gramedia di seluruh Indonesia atau pesan online di:

Atau dapat menghubungi penulis langsung di Twitter: @AjiJuf

More book from Ayi Jufridar:

Friday, March 13, 2015

Sesaknya Menahan Rindu



Sejak pertengkaran hebat beberapa minggu yang lalu, aku tak pernah lagi mendengar bagaimana keadaannya, bahkan burung merpati pun enggan untuk memberi kabar. Terkadang rindu datang mengemis sua, kadang merasa kasihan pada sesak yang merengek akan pahitnya merindu. Tapi aku sudah berjanji tidak akan menuruti, takkan lagi aku merasa iba pada diriku sendiri biarkan saja rindu ini ku kubur dalam, sedalam mungkin sampai aku lupa kalau aku pernah merasakan sesaknya rindu.

Ku seka air mata yang jatuh pada pelipis mata, menetes dengan deras menembus bantal  bergambar hello kity berwarna biru langit. Air mata ini masih saja menetes entah karena rindu ini yang begitu sesak atau mungkin karena memang aku yang begitu rapuh  dan tak mampu menahan gigilnya rindu. Kadang aku merasa kesal pada diriku sendiri, mengapa aku begitu rapuh hingga air mata sangat mudah jatuh dengan bebasnya. Bahkan hanya dengan siluit kenangan kecil bisa saja mengundang hujan deras di pelupuk mata ini dan membuat gigil hingga mati rasa..

Bagaimana kabarnya? Apakah ia baik-baik saja? Apakah sakit dikepalanya masih sering kambuh? Makan apa dia hari ini? Apakah ia masih suka begadang hingga membuat badannya begitu ringkih?. entahlah, tak pernah lagi aku mendengar kabarnya, rasanya aku ingin sekali menekan tombol send pada layar ponselku dengan jujur mengatakan bagaimana rindu yang begitu sesak ini padanya. Tapi kuurungkan niatku untuk mengirimnya pesan singkat dan kuhapus lagi, karena sejujurnya aku takut jika hanya abai yang kudapat.

Dari begitu sesaknya menahan rindu, lebih begitu amat menyesakkan apabila ia mengabaikan rindu yang begitu menggebu-gebu ini, lebih baik ku pendam dan tak ku sampaikan padanya daripada terabaikan, terbuang, dan tak di hargai. Sejujurnya aku tak pernah mengharapkan ia juga membalas rindu ini, cukup dengan ia menghargai dan tidak mengabaikan semua rindu-rinduku yang ku kumpulkan menjadi bait-bait tulisan yang sederhana  ini saja sudah jauh lebih dari cukup.
Oh iya, tak apa, jika ia tak merindukanku.
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com