Friday, September 19, 2014

Pengalaman Saya Dalam Berjilbab



Assalamualaikum wr.wb,
Kali ini saya ingin membahas tentang pengalaman saya menggunakan jilbab. Saya memang terlahir menjadi seorang muslimah dan sudah sepantasnya saya memakai jilbab unyuk menaati perintah Allah swt. Sejak dari kecil saya sudah di ajarkan oleh umi saya untuk memakai jilbab, Alhamdulillah saya bersyukur karena di lahirkan dari keluarga yang notabene dari keluarga muslim yang sedikitnya mengetahi tentang agama islam dengan baik, umi adalah seorang ukhti dan abi adalah seorang ikhwan. Ketika menduduki bangku sekolah saya selalu mengenakan jilbab yang menutup dada saya sesuai dengan ajaran Allah yang telah di tetapkan dalam al-quran, jujur saya merasa nyaman ketika mengenakan jilbab bahkan saya merasa tidak nyaman jika tidak mengenakan jilbab. Meskipun pipi saya akhirnya belang tapi tidak menyurutkan saya untuk tidak menaati ajaran Allah swt.

Tapi, semuanya berubah saat saya kuliah, saat itu saya lebih suka menggunakan jilbab paris yang tipis lalu diselempangkan ke pundak hingga tidak menutupi bagian dada saya, hampir satu semester saya menggunakan jilbab seperti itu. Hingga di semester dua saya mulai sadar jilbab yang saya kenakan sungguh tidak dibenarkan oleh Allah swt, terlebih saya merasa sangat risih di karenakan tak sedikit laki-laki yang memperhatikan bagian tubuh saya itu yang seharusnya tertutup rapi. Alhamdulillah di semester dua ini saya mulai menggunakan jilbab yang menutup dada saya. Jujur saya takut, saya malu dan saya ragu mengambil keputusan ini ada yang bilang “tobaat ra?” lalu ada yang bilang “cieee sekarang Zahra udah jadi mamah dedeh” dan kata-kata lain yang membuat saya down. “apakah saya tidak boleh menjadi lebih baik?” itu yang selalu saya tanyakan pada diri saya sendiri. Jujur saja, dengan memakai jilbab yang menutup bagian dada ini membuat saya justru semakin percaya diri, bahkan saya merasa sangat nyaman karena tidak ada lagi laki-laki yang memperhatikan bagian dada saya. Justru saya semakin terjaga dan bahkan terlindungi

Entah setan dari mana yang membuat saya terpengaruh lagi, saya mulai menggunakan hijab dengan berbagai macam model, banyak tutorial hijab yang saya cari untuk saya praktekan dan saya kenakan, ketika mereka, teman-teman saya bilang kalau saya sangat cantik dan terlihat lebih manis dengan memutuskan menjadi seorang hijabbers. Dan itu membuat saya semakin tertarik mencari model-model hijab lain di internet, tidak munafik saya sangat senang dan bangga di bilang sangat cantik saat memakai hijab. Dua minggu di kampus saya menggunakan hijab dan itu cukup menguras waktu saya di pagi hari karena mengenakan hijab itu sungguh ribet.

Suatu siang saat saya sholat dzuhur di masjid kampus, saya melihat seorang gadis cantik yang menggunakan jilbab panjang dan juga lebar bahkan bukan cuma menutupi dada tapi hingga menutup bagian belakang. Jujur melihat itu hati saya sangat teriris dan bahkan saya sangat malu. Saya merasa tidak mencerminkan sebagai seorang muslimah yang baik. Saya menggunakan hijab bukan lagi untuk melindungi diri saya tetapi justru mengalihfungsikannya sebagai gaya-gayaan, ikutan trend, ingin terlihat modis dan cantik. Sungguh saya merasa sangat hina disitu, saya tidak pantas di sebut sebagai muslimah, bahkan saya tak menggubris larangan umi saya untuk tidak lagi menggunakan hijab model, umi hanya ingin anaknya memakai jilbab yang syar’i yang sudah di tetapkan Allah. setelah melihat gadis itu, malamnya saya berpikir “apakah saya bisa balik lagi memakai jilbab yang syar’i? apa tanggapan teman-teman nanti?”

Dengan tekad yang bulat saya memutuskan untuk kembali mengenakan jilbab yang syar’i, jilbab yang mana sesuai dengan fungsinya. Bahkan saya memutuskan untuk memakai jilbab yang lebih panjang lagi sama percis seperti gadis yang saya lihat pada siang itu. Banyak tanggapan miring saat saya memutuskan kembali mengenakan jilbab syar’i. ada yang bilang saya sekarang sudah alim lah, inilah, itulah, dan bahkan ada yang terang-terangan bilang saya jelek karena memakai jilbab yang panjang dengan dalaman topi, jujur saja saya down tapi saya punya Allah swt dan saya hanya mau dilihat oleh Allah swt. Buat saya tak apa di bilang jelek oleh manusia tetapi di pandang cantik oleh Allah swt, itu membuat saya bangkit dari rasa down. Bahkan ada yang memanggil saya dengan sebutan “umi” saat itu saya hanya meng-amin-kannya dan tersenyum karena menurut saya ia sedang berdoa kelak saya akan menjadi seorang ibu.
Saya tidak lagi memperdulikan tanggapan miring orang-orang mengenai jilbab syar’i saya sekarang, saya hanya ingin Allah tidak marah pada saya lagi karena telah berganti-ganti model hijab.
Saat ini saya hanya ingin memohon doa kepada yang membaca tulisan saya, agar saya tetap istiqamah dan tidak labil lagi. Syukran katsiran
:)
Wassalamualaikum wr,wb.

Thursday, September 18, 2014

Terimakasih dan Maaf



Terimakasih,
karena dengan bersama kamu aku tahu apa artinya mencintai dan dicintai
karena dengan bersama kamu aku tahu rasanya menyayangi dan disayangi
karena dengan bersama kamu aku tahu rasanya merindu dan dirindukan
karena dengan bersama kamu aku tahu rasanya mamanjakan dan dimanjakan
karena dengan bersama kamu aku tahu rasanya mengerti dan dimengerti
karena dengan bersama kamu aku tahu rasanya meminum segelas ice cappuccino berdua
karena dengan bersama kamu aku tahu bagaimaana keindahan senja
karena dengan bersama kamulah segalanya begitu indah

Terimakasih,
karena dengan bersama kamu aku tahu rasanya menahan sakit yang teramat sangat
karena dengan bersama kamu aku tahu rasanya terabaikan
karena dengan bersama kamu aku tahu rasanya dibohongi
karena dengan bersama kamu aku tahu rasanya tersakiti
karena dengan bersama kamu aku tahu rasanya menangis semalaman
karena dengan bersama kamu aku tahu rasanya menahan sesak dalam dadaku
karena dengan bersama kamu aku tahu rasanya tidak dihargai
karena dengan bersama kamulah aku tahu rasanya disia-siakan

Dan terimakasih,
sudah bersedia menjadi tokoh utama dalam setiap tulisan yang aku tulis
sudah bersedia membuat semangat menulisku kembali tumbuh saat penaku mulai patah
sudah bersedia menjadi penasehat yang baik saat aku mulai keras kepala
sudah bersedia meredam amarahmu saat aku mulai nakal
sudah bersedia bersabar meladeni kemanjaanku yang mungkin membuatmu muak
sudah bersedia menemaniku saat aku merasa kesepian
sudah bersedia menjadi pendengar yang baik saat aku berkeluh kesah atas setiap masalahku
sudah bersedia mau menjadikan aku wanita dewasa meskipun kamu harus tertatih-tatih

Maaf,
maaf telah membuatmu kesal
maaf telah membuatmu marah
maaf telah membuatmu kecewa
maaf telah membuatmu muak
maaf telah membuatmu sedih
maaf telah membuatmu pedih
maaf telah membuatmu sakit
maaf telah membuatmu merasa terbebani

Dan maaf,
maaf telah menjadi sosok wanita yang keras kepala
maaf telah menjadi sosok wanita yang susah di atur
maaf telah menjadi sosok wanita yang sangat manja dengan umurku yang semakin bertambah
maaf telah menjadi sosok wanita yang tak bisa menahan ego ku
maaf telah menjadi sosok wanita yang belum bisa memahami setiap apa yang kamu maksud
maaf telah menjadi sosok wanita yang belum bisa menjadi apa yang kamu inginkan
maaf telah menjadi sosok wanita yang mudah sekali putus asa atas hubungan ini

maaf telah menjadi sosok wanita yang belum bisa bersabar atas semua masalah yang kita hadapi
Dan mungkin hanya maaf daan terima kasih yang pantas aku curahkaan kepadamu. Iya, padamu pangeran bersepeda putihku

Aku Siap Menunggu



Tersenyum adalah cara yang tepat
untuk menunjukkan betapa bahagianya
hati yang retak lalu tersambung lagi
menjadi utuh tanpa luka sedikitpun

Tersenyum tanpa beban
menangis jika sakit
menjalani hidup bagai air mengalir
bukankah semua itu sudah takdir?

Bagiku menemukannya disaat ku terpuruk
adalah kebahagiaan yang tertunda
bersama tapi tak ada ikatan
menyatu tapi tak ingin di satukan
ini tak adil bukan?

Entahlah, kurasa saat ini aku ingin sendiri
aku lelah jika kembali sakit
perihnya selalu tak tertahankan
lukanya pun selalu membekas

Namun selagi aku sanggup menunggu
aku akan menunggu hingga ia siap
menyatukan ikatan di atas pelaminan
tersenyum bahagia di pelataran

Kau Datang Bagai Penyelamat



Disaat kaki lelah melangkah
disaat itu pula tak ada daya untuk mencinta
segalanya terlihat begitu gelap
tak ada cahaya walaupun hanya sedikit

Aku mencoba mencari jalan keluar
tak jua aku menemukannya
tangisku meledak
airmata pun mulai membasahi pipi

Di sudut pojok kegelapan
aku berteriak histeris
memanggil siapapun itu
untuk membebaskanku dari sini

Lalu kau datang bagai penyelamat
tersenyum dengan penuh arti
terkesan manis dan menyejukkan
dengan ramah menggenggam jemariku

Bagai tersambar petir
hatiku bergetar merasakannya
tubuhku lemas
apakah mungkin rasa cinta itu hadir kembali?

Saturday, June 7, 2014

Terima Kasih Bunga Edelweis-nya Rel




“Itu apaan?” tanyaku pada farel saat melihat ada suatu yang ganjil di dalam dompetnya, bentuknya seperti bunga yang sudah layu

"ini? kamu ngga tau?” tanya farel sambil menunjukkan dompetnya dan mengeluarkan bunga tersebut

“itu bunga kan?” tanyaku dengan polos

“iya bunga, tapi kamu serius engga tau bunga apa ini?”

Aku mengangguk dan seperti kelihatan sangat bodoh, jujur saja aku tak begitu paham tentang berbagai jenis bunga. yang aku tahu hanya bunga mawar, bunga melati, bunga anggrek dan bunga-bunga yang sudah pernah kulihat sebelumnya, aku tau bunga eidelweiss tapi aku tak tau bagaimana bentuknya. Bukannya aku tak suka, tapi aku tak begitu mencari tahu tentang jenis-jenis  bunga

“ini bunga eidelweiss” kata farel menjelaskan

“oh” ucapku singkat

“mau ngga?” tawarnya padaku

Aku menggeleng dan melanjutkan menyantap makananku

“serius engga mau?” tawarnya lagi

“engga ah, buat apaan emang? segitu istimewanya kah?”

“cari di google” ucap farel agak sedikit kesal sambil memasukkan lagi bunga itu ke dalam dompetnya

Aku terdiam, Aku bingung mengapa ia menyuruhku mencari tahu tentang bunga eidelweiss di google jika ia sendiri bisa menjelaskannya padaku. Atau mungkin karena ia lelah jika harus menjelaskannya padaku? Padahal aku tidak begitu bodoh. Jika ia mau menjelaskannya secara perlahan pasti aku dapat mengerti

Karena aku penasaran dan juga karena aku mendapat tugas darinya untuk mencari tahu tentang bunga eidelweiss tanpa pikir panjang setelah pulang kuliah aku langsung mengkonesikan laptopku dengan internet dan mulai menjelajah di dunia internet, aku langsung bertanya pada mbah google apa itu bunga eidelweiss dan muncul lah banyak artikel tentang bunga eidelweiss.

Ternyata bunga eidelweis dinamakan ‘bunga abadi’ dan di balik keindahan dari bunga eidelweis ternyata tersimpan sebuah mitos, dimana bagi yang memberikan bunga ini kepada pasangannya, maka cintanya akan abadi. Tidak sedikit para pencinta alam yang menjadikan bunga abadi ini menjadi salah satu hadiah spesial bagi pasangannya. Konon, hal itu dimaksudkan agar cintanya abadi. Butuh perjuangan untuk mendapatkannya, karena bunga eidelweis biasanya tumbuh di puncak-puncak atau lereng-lereng gunung.

Oleh karena itu bisa dibayangkan betapa susahnya untuk bisa memetik si bunga abadi ini. Orang bilang, “Untuk mendapatkan bunga edelweis yang indah, maka semakin besar resiko yang dihadapi”, karena nyawa adalah tantangannya. Mengingat bahwa bunga edelweis telah menjadi bunga yang langka dan dilindungi, razia juga salah satu resiko yang harus ditanggung.


***
 
Esoknya aku menemuinya di kantin. Aku benar-benar tak sabar ingin memegang bunga abadi itu

“aku udah tau” ucapku memecahkan keheningan saat farel sedang asik menikmati segelas ice cappuino

“apaan?” tanyanya kebingungan

“hmm…. bunga eidelweiss itu rel”

“oh” ucapnya singkat

“aku mau rel” pintaku padanya

“kemarin katanya engga mau”

“ya kan kemarin aku belum tau apa keistimewaan bunga eidelweiss itu rel” ucapku malu-malu “oh iya, kamu nyuri bunga itu ya? kan itu di lindungi banget rel”

“enak aja” gerutu farel

“haha lalu?”

“aku mengambilnya waktu aku naik gunung pas SMA, aku lupa waktu itu udah ada larangannya atau belum yang jelas pas aku turun di periksain dan cuma boleh bawa tiga tangkai. Yaudah aku bawa tiga tangkai” jelasnya. “kamu beneran mau bunga ini?”

Aku mengangguk kegirangan

“ini eidelweis aku satu-satunya, hmm yaudah deh gapapa. Jangan di ilangin yaa” ucapnya sambil mengeluarkan eidelweiss itu dari dompetnya dan menyerahkannya padaku

“ikhlas engga nih?” 

“ikhlas lah sayang”

“engga jadi deh rel, aku terlalu banyak minta sama kamu, udah engga terhitung berapa banyak permintaan yang aku pinta” ucapku murung sambil menyerahkan kembali bunga eidelweis itu ke tangannya

“buat kamu kenapa engga sayang? selagi aku mampu kenapa engga? aku cuma pengen buat kamu senang, bahagia disamping aku. Walaupun aku sering buat kamu nangis ra” ucap farel menggenggam tanganku dan menyerahkan bunga abadi itu lagi

Aku tak bisa berkata apa-apa lagi, betapa beruntungnya aku memiliki farel. Ia sudah mengabulkan banyak sekali permintaanku dan aku sama sekali tidak bisa membalas semua yang ia lakukan terhadapku. Aku hanya mampu bilang “terimakasih rel, aku sayang kamu”
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com